Catatan Dari Hongkong – II (Maiyahan Hongkong 2013) - Reportase Maiyahan
Headlines News :
Home » » Catatan Dari Hongkong – II (Maiyahan Hongkong 2013)

Catatan Dari Hongkong – II (Maiyahan Hongkong 2013)

Written By Unknown on Jumat, 17 Mei 2013 | 09.19

Minggu, 21 April 2013, untuk kesembilan kalinya Cak Nun dan Mbak Via diundang oleh Lembaga Dakwah Az-Zahra untuk Maiyahan bersama para TKI/TKW Hongkong. Bertempat di Sheung Wan Exit C, Commercial Building – The Leader’s Dansa, Maiyahan yang mengangkat tema ‘Tangguh’ ini dimulai dari pukul 10.00 waktu setempat.

Sebelum masuk ke acara inti, dilakukan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh beberapa perwakilan Az-Zahra. Setelah itu dinyanyikan Syi’ir Tanpo Wathon. Sapaan Mbak Via dan Cak Nun disambut antusias oleh seluruh jamaah yang hadir.

“Kita bersyukur semuanya pada pengajian. Ada yang nggak datang? Pada ngapain? Kita tidak usah njelekin orang, tapi pokoknya saya bersyukur anak-anakku semua hari ini di sini. Usume ono sing sir-siran, ono sing mbuh lapo, ono sing joget-jogetan, tapi Anda semua memilih untuk bersilaturahmi dengan Allah dan Rasulullah. Saya doakan, karena pilihan dan pengorbanan yang sangat baik, maka ini membuat rizqimu tambah melimpah, keluargamu di Indonesia dijaga sama Allah, anak sampai cucu-cucu besok, insyaAllah rejekinya dijaga sama Allah. Cuma pesen saya : harus tangguh.  Jangan mau dirampok siapa-siapa. Kerja setengah mati di Hongkong menghimpun uang, harus tahu persis gimana caranya supaya penghasilan Anda semua, anak-anakku semua, bermanfaat. Nanti kita omongkan, mbuh di bandara diapakan, di kampung dibagaimanakan – kadang-kadang suami juga ikut moroti juga.”

“Nanti diomongkan bareng-bareng supaya tambah tangguh, tambah pinter, jadi seluruh hasil kerja di Hongkong ini bermanfaat sampai besok-besok. Untuk supaya berkah semua, yuk Al-Fatihah bareng-bareng, dipimpin dilagukan agar Gusti Allah terharu.”
Satu lagu dibawakan Mbak Via, berjudul Kepadamu Kekasihku.

“Lagu ini,” kata Cak Nun, “adalah lagu Sholatullah Salamullah tapi lagu yang gampang, bukan lagu Arab, cek’e awakmu tidak menyangka bahwa Islam sama dengan Arab. Ngaji itu pakai bahasa Jawa nggak apa-apa, ra nganggo lagu yo rapopo, ra usah dipaksakan.”

“Sebelumnya saya ingin mempermaklumkan dulu kepada anak-anakku semua. Saya ini bawa peci tapi sengaja nggak saya pakai, supaya saya tidak disangka ustadz. Saya ini bukan ustadz. Jadi ustadz itu syaratnya berat, ilmunya harus matang. Saya ilmunya setengah mateng, jadi saya jangan disebut ustadz apalagi kiai. Kalau ngundang saya ke Hongkong, itu pokoknya awakmu tak anggep anakku. Aku iki bapakmu, Mbak Novia ibumu.”

“Nek bapak rodo goblok gak masalah, tapi nek ustadz kan kudu pinter. Saya mau ke Hongkong hanya kalau saya ini bapakmu. Kalau saya disebut ustadz, kiai, tokoh, atau apapun, aku emoh mrene. Koen gak usah nyangoni Bapak, ngge tuku-tuku beras ndhek kampungmu kono wae. Tapi pokoknya hubungannya harus begitu ya?”

“Sekarang mari kita dandani pelan-pelan. Aku pokoke seneng ndelok arek-arek sholawatan. Kalau Sampean sholawatan di Mekkah, itu nggak istimewa. Tapi ini sholawatan di Hongkong lho. Kalau orang nggak makan karena memang nggak ada makanan, ya nggak gumun. Tapi kalau ada banyak makanan dan dia berani tidak makan, itu baru istimewa. Kalau di Arab sana ya sholawatan wong ada Ka’bah, tapi kalau di sini ada apa ndhek kiwo tengen iki? Sampean bikin pengajian, mau sholawatan, mau bersilaturahmi, berarti berkahnya untuk anak-anakmu besok. Tapi boleh nggak didandani sama Bapak dikit-dikit?”

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Reportase Maiyahan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger